Artikel || Opini || Catatan || Cerita || Puisi || Motivasi ¤ BERKARYA UNTUK SEMUA ¤

Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Diary EL


Rabu,02-oktober-2013…

Tak sedikit hal yang begitu sukar untukku jangkau, aku menganggapnya gampang. Kulakukan semua itu meski berjuta rintangan yang menghalangi,hanya karna secawan rasa yang tak bisa kubinasakan dalam lubuk hati ini. Ia benar-benar menyiksa batinku. Mungkin terlalu dalam ia mengakar. Menuntut diri ini untuk selalu bersemayam dengannya,seseorang yang sangat kudamba. Yah, seingatku, rasa indah itu hanya bermula dari pandangan saja, akan parasnya yang menurut ku  nian anggun, saat itu, memang kali pertama kumelihatnya di jalan raya depan rumah. Dan sampai saat ini pandanngan itu masih membekas menjadi tuntutan besar  parasaan.

Cinta memang datang dari mata lalu turun ke hati

                        Jum’at,04-oktober-2013…

            Sore itu, aku mengintip dibalik tiang listrik yang berada disebelah utara rumahku. seseorang itu melaju kencang, mengemudi kendaran matic di jalan raya depan rumah. Sungguh aku senang! Hatiini berbunga-bunga disaat wajah oval nan nan nian anggun, seakan aku merasa kurang waktu untuk lebih lama lagi menatapnya. Sebut saja namanya EL. Ya EL, ia  tidak jarang lewat di  depan rumah, melintasi jalan itu setiap sore, meski pada jarum jam yang tak selalu sama. Dan setia EL belum datang melintasi jalan depan rumah itu, pasti aku sudah stand by di balik tiang listrik yang terlalu jauh dari arah jalan itu, demi keinginan untuk lebih leluasa melihatnya. Saat terlihat agak jauh melewati jalan itu, aku bersiluwit. Ia membalikkan wajah aggunnya itu akan suara sluitan itu. mungkin yang dilihatnya tidak ada seseorangpun, ia kembali menekuni kendaraanya maticnya.

            Aneh! Disetiap EL kembali pulang dari tempat yang menjadi tujuannya, ia pasti membawa oleh-oleh yang dibungkus dengan plastic hitam, yang berukuran kepala orang. Entahlah apa itu? tapi untuk apa aku menghiraukan itu. yang aku hiraukan hanya orangnya saja. Aku ingin segera kenal dengannya. Itu saja yang menggerogoti  perasaanku setiap saat. Siapa sich orang itu?

                        Senin, 07-oktober-2013… 

            Sepotong pagi disekolah…

            Ramai! Suasana di sekolah yang sedari tadi sepi, kini mulai berubah ramai. Siswa-siswi mulai berdatangan. Memenuhi koredor-koredor sekolah. Adayang datang dengan jalana kaki, ada pula yang menggunakan kendaraan bermotor. Tak taunya dari kejauhan sana, tanpak seseorang yang memang aku kenal sebelimnya; dari modif kendaraanya saja dan ciri kas pengemudinya. Seakan je4las perasaanku mengira sweseorang itu. wah…lihatlah! Dugaanku sangat tepat sekali. Ia adalah EL, seseorang yang selama ini menjadi dambaan hatiku. Hatiku riang, melihatnya. Ia memasuki lokasi sekolah, seakab aku mau menampakkan style kerrenku saat itu di depannya. Dan yang memebuatku penasaran, ia membonceng bocah yang berseraagam sekolah. Ya... bocah itu yang EL hantarkan ke sekolah. Aku hanya meyakini saja bahwa ia adaalah adiknya. EL nganterin adiknya. Itu yang terguman dalam benakku. Eh akku tau anak itu, dan sebuah kesrmpatan emasku untuk segera PDKT dari anak itu.         

            Jam istirahat… sengaja kkumerndastangi kelasnya. Dan pura-pura bertanya lagu terbarubya  West life, salah satu nama band popular barat. Dan dalam pada itu aku berhasil mendapati kontak person si EL. Dan saat itu pula aku mulai mengenal anak iotu.

            Setibanya di rumah subgguh aku bersimbah riang. Bahkan aku menyempatkan sujud syukur sebagau rasa terima kasih kepadsa sang maha pengasih, yang sudah member jalan untukku untuk bisa taarufan dengan EL. Alhamdulillah!

                        Rabu, 09-oktobber-2013… 

              “Hai?” kutulis sebaris pesan di layar ponselku. Lalu kutekan tombol yes untuk send message ke nomor tujuan. Kutunggu beberapa saat lagi. Namun tak ada satupun pesan yang muncul dilayar ponselku itu, hanya laporan pesan terkirim saja yang muncul, membuat layar ponsel itu menyala. Ih…  kutulis lagi kata ‘’Hallo…?’’ Lalu diresend ke nomer yang sama, seperti sebelumnya tapi tetap, tak ada balasan sedikitpun yang datang di ponselku. Ada apa sich? Aku mulai merasa kecewa karna tak ada hasil yang memenuhi harapanku. Ya sudah,  aku gunakan cara yang lain saja, Calling langsung orangnya. Panggilanku masuk, ditandai nada tunggu yang sangat teramat merdu  untuk kudengar. Aku semakin meridukannya, EL. Eh panggilanku diangkat, tapi suaranya putus-putus dari seberang sana. Aku tidak bisa menangkap suaranya dengan jelas. Yang terdengar hanya seperti bunyi radio rusak yang tak terjangkau jaringan.

            Batinku begitu antusias. Aku harus banyak berkorban, jika benar ingin memelikinya. Kuterpaksa transfer pulsa ke nomor ponselnya. Pagi-pagi, kukirim kembali sebaris pesan “Hay…?” sesaat kemudian, hanya muncul sebuah laporan yang tertera di layar ponselku. “Sent Item ” pesan sudah terkirim . aku tunggudengan btusiasku. Sejurus kemudian. Kring-kring! Ada pesan masuk. Pasti dia ! Gumanku dalam hati. Kubuka dengan begitu panasaran pesan yang baru masuk itu. “Hay… too!” Balasnya yang singkat. Aku hanya tersenyum riang, kubalas dengan tulisan pesan lain, yang lebih banyak lagi. Ia balas juga dengan kalimat yang lebih banyak, dan teruslah berlabjut, hingga akhirnya kumerasa begitu puas SMS-an dengan si EL.

                        Jum’at, 11-oktober-2013…

            Pagi-pagi buta…

Kusapa EL dalam ponselnya dengan sebaris kalimat”Selamat Pagi?” seperti biasa, dia tidak langsung menjawab pesanku. Bahkan sampai berulang kali kukirim pesan itu. namun tetap nihil. Dia tidak sama sekali membalas pesan yang ada  di ponselnya. Baru setelah kukirim sedikit pulsa ke kontak personnya. EL tidak sungkan lagi membalas pesan sampai berakhir, matre, ya? Dan dalam pada itu, aku merasa lebih puas chattingan-an walaupun hanya melalui SMS. Dan melalui pesan- memesan itu. aku dan EL bisa saling mengenal karena waktu itu kujadikan kesempatan untuk saling menukar photo. Kami jadi akrab, meski tak sekalipun ada perjumpaan hangat diantara  kami, face to face in hand phone. Ya… begitulah canggihnya Technologi di zaman sekarang ini.

Ahad, 13-oktober-2013…

            Seperti sebelumnya, aku asyik nyambung dengan EL hanya dalam telephone seluler saja.; tanpa ada perjumpaan antara muka kemuka, melainkan hati…

Aku keluarkan jurus ampuh remaja itu. , gombal! . Untuk meluluh dan mengikat hati EL. Akhirnya, aku berhasil menyihir hatinya.  Horry…horry…! EL mengiyakan dan menerima dengan lapang dada saat kuungkapkan semua tentang perasaan yang lama bersarang dihati ini. Sungguh! Aku benar-benar bahagia., menerima kejadian itu. bahkan tak pernah ada sebuah peristiwa sebelumnya yang bisa membuatku tersenyum sesuka itu. hatiku gaduh keriangan…

            My love is wonderful and wonderful…….

Ya Allah … hanya kepadamu aku berterima kasih , karena segala sesuatu tak akan pernah terjadi tanpa idzinmu…

Selasa, 15-oktober-2013…

Sore, di hjari Lebbaran …

Asyik!  Aku sempat jalan-jalan ke NIPA, salah satu pariwisata yang orang sebut “Hutan Kera” sebab dalam hutan itu sangat dominan sekali dengan  binatang semacam Kera dan simpanse. Disana, aku bersama teman-teman sebayaku. Hutan itu berada di kabupaten sampang bagian utara.

            Banyak sekali pengunjung di tempat itu. maklun, hari itu tepat pada hari raya idul adha. Memang agak banyak para pengunjung yang meluangkan waktunya pada hari-hari yang seperti itu. mereka mau menikmati suasana permai  disana, refreshing!

            Jealous ! aku terkejut dari kejauhan jarak. Aku melihat EL bersama lelaki lain dan bocah yang sering dihantarnya ketika berangkat sekolah. Dia berada disamping EL, mengiringi langkah mereka. ADIK EL, menurutku. Aku sakit hati. Aku geram melihat siapa lelaki itu. berani-beraninya, dia mendekati EL. Batinku memberang. Mereka terus berjalan dengan begitu mesranya. Aku semakin geram melihatnya. Sungguh, hatiku benar-benar tersayat dan teriris belati yang dia persembahkan untukku saat itu. untuk Sementara waktu, aku membiarkan fenomena yang menyakitkan itu.  aku mengira bukan waktunya. Tapi awas, suatu saat nanti, akan kukasih pelajaran leleki itu. dasar lelaki tak tahu diri!     

Kamis, 17-oktober-2013…

            Masih geram! Tiga hari sejak kejadian yang menyakitkan itu, aku aku sama sekali tidak member kabar kepada EL…

Kejadian tiga hari lalu masih membekas. Menjadi sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan mata hatiku. Aku geram, sungguh geram, membayangkan kejadian itu. Mengapa EL tega melakukan itu padaku…huh!   Aku selalu marah . amarahku seakan-akan tak bisa kutambat. Dan setiap kemarahan itu hadir, menghantui hatiku, pasti ada perabotan rumah yang aku hempaskan dan dibuang kemana saja.

            Waktu itu aku berada di beranda rumah. Duduk berdiam. Tak ada ada kata yang meluncur dari mulutku dan tak ada pula senyum yang terpasang di wajahku. Sangat jelas sekali wajahku menampakkan dekorasi kesedihan yang tak berkesudahan. Sontak, ada yang menggugah batinku  saat kedua mataku menangkap seorang lelaki yang persis seperti tiga hari lalu. Dia melewati jalan raya depan rumahku. Dia membonceng bocah yang sering aku lihat bersama EL. Anehnya, Dia mengemudi kendaraan yang sama seprti milik EL. Keterlaluan! Sergah batinku. Aku bangkit dari tempat duduku dan tergopoh-gopoh mengambil kendaraan yang ada di sebelah utara rumahku. Aku kejar lelaki tak tau diri itu dengan begitu berangnya. Mampus kau!. Kendaraanku melaju dengan cukup kencang. Aku ingin menyalipnya. Setelah kendaraanku bersampingan dengan lelaki itu, aku  dorong bagian belakang kemudinya keras-keras.  Sehingga lelaki terjatuh dan terplanting jauh dari jalan itu. aku merasa kurang puas dengan sebelumnyaitu. Aku masih beranjak menuju tempat ia terjerambab,. Lagi lagi aku menghajarnya dengan beberapa kali tonjokan di wajahnya. Sepertinya dia ingin melawan. Tapi dirinya tak berdaya lagi. Aku kembali menonjoknya. Tapi tiba-tiba saja, bocah itu sadardan berteriak dengan menyebut nama “Ayah “, lantas aku terkejut dan bungkam seketika. Bingumg!  Aku benar –benar bingung saat itu. aku tidak tau mengapa bocah itu memanggilnya Ayah. Aku tidak tau harus berbuat apa…..

Aku hanya berdiam diri dan terpekur….

Jum’at, 18-oktober-2013…

Aku sadar….

Lelaki itu adalah  imam dari keluarga EL. Sedangkan Bocah itu adalah belahan jiwanya. Dan setiap sore, dia memiliki tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Aku menyesal… Aku harus bagaimana……

)*Banyuanyar,(10: 00 pm) 17-11-13

Kediaman blok O*)

Share:
Read More

DIARY TERAKHIR BUNDA

®M Siryi Zamil

Jangan menangis, sayang…
Ini hanyalah cobaan tuhan…
Hadapi semua dengan senyuman...
Dengan senyuman, dengan senyuman…
(st12)

***
Sore tanpa cahaya mentari. Entahlah… mengapa akhir-akhri ini suasana sore tak pernah munculkan seberkas kecerahan bagi penduduk di bumi? Kejadian ini muncul setelah kematian bunda tercinta berlalu. Ya… semenjak kematian bunda itulah suasana hari lebih sering murung, dan tak pernah menampakan senyum merekahnya kepada sang Bumi, yang setiap waktu mendambakannya.

Bumi pun menjadi sukar membiaskan keindahanya, kecuali buram yang semakin hari semakin menjadi-jadi, membuat semua yang bernyawa tidak bisa berpetualang dari habitatnya masing-masing. Mengapa tidak? jika mendung diatas sana tengah berarak dan berkeliaran, sebentar lagi ia akan luruh berupa kucuran air hujan. Ya…kucuran air hujan sebentar lagi akan segera turun, seperti rasa sedih dikelopak hati yang sebentar lagi pula menciptakan air mata.

Bunda, anakmu masih belum bisa mengubur kenangan itu, anakmu masih berharap untuk lebih lama lagi mengukir hidup bersamamu, Bunda,.. Sungguh hampa! Hidup terasa hampa, tanpa belaian kasih sayang Bunda, yang setiap saat menyertai hidup ini, hampa karena dongeng-dongeng pengatar tidur itu tak lagi mengalir seperti saat-saat bersama Bunda. Andaikan bunda bisa kembali seperti waktu-waktu sebelumnya itu, apapun akan aku lakukan hanya demi kenangan indah itu…tapi..,tapi..,hal itu tidak mungkin terjadi karena Bunda telah kembali ke rumah bunda yang asli.

Mengapa sesingkat ini Bunda pergi meninggalkan anakmu seorang? Tidak kasihanlah bunda kepada anakmu, yang kini mengukir hidup tanpa siap-siapa…

***
Huff…. Dengan segera, aku bangkit dari kursi tua itu, kursi yang selalu menghadirkan sebuah kenangan silam bersamanya, Bunda. Lantas Aku berlari menuju sebua ruangan yang tak berpenghuni lagi, itu adalah kamar Bunda yang sudah sekian hari kubiarkan kosong.

Dalam kamar yang ditinggal penghuninya itu, aku berdiri tegak. Mengitari semua yang terbentang disana; mulai dari atap kamar Bunda, dinding kamarnya yang berwarna putih, serta benda-benda yang berharga menurutku yang tertempel di sana sini, apalagi seperti halnya figura yang membingkai foto-foto Bunda bersamaku, membuat ingatanku semakin merindu akan kebersamaan itu. Bola mataku berkaca-kaca. Aku mengalihkan pandangan menuju ranjang, tempat, dimana Bunda  menghembuskan nafas terkhirnya di atas ranjang yang berkasur empuk itu, Aku alihkan lagi pandangan mataku kesebelah ranjang, sebuah tempat yang biasa bunda tempati, saat memakai muekena putihnya, tempat ibadah Bunda. Ya… tempat itu adalah dimana  bunda mendirikan Sholat…

Ya…Allah aku rindu Bunda….
Ah… Bunda yang cantik… Aku merindukanmu, Bunda! Saat mataku menangkap bayangannya seperti saat-saat biasanya. Ia masih tampak cantik dengan Mokena nan putih berkilau, Ia memutar sesungging senyum kearahku. Pasti senyum itu untukku… kubalas senyum merekah itu dengan senyum rinduku nan sayu.

“Aku rindu Bunda!” Teriakku sambil mendekap tubuh putihnya. Tapi..,tapi.., yang didekap sudah menghilang seketika. Entahlah kemana Ia pergi…? Aku hanya celingukan, mencari sesosok yang sangat kudambakan kehadiranya sebagai obat rindu, diiringi suara histeris yang menyeruak di sudut-sudut kamar. Aku ingin bersama Bunda!

Air mataku menitik, menahan sepotong rindu yang urung terobati. Ya Allah…tega bunda meninggalkanku…? Desahku dalam hati, lamat-lamat sebuah rasa hadir dikepalaku. Dan menggerakkan tubuh mungilku menuju laci, ya… dalam laci itu, Bunda yang sebiasa menaruh sesuatu. Penasaran! Entahlah… hal apa yang menghipnotis pikiranku saat itu. Aku benar-benar merasa digiring oleh mahluk ghaib saat melihat laci nan kecil itu. Lebih penasaran lagi setelah kutemukan sebuah buku kecil didalam laci itu.

Diary? Ya… buku itu adalah diary alias catatan yang menjadi teman saat Bunda mencurahkan isi hatinya. Dan hanya untuk kali ini saja, aku mengetahui teman curhat bunda. Dengan begitu penasaran, kata demi kata aku mulai membacanya…

29 Desember 2012…
Dear, Diary …

Mungkin catatan ini merupakan yang keterakhir kalinya yang  Bunda tuangkan ke dalam  Diary Bunda. Bunda rasa sudah cukup membekali seuatu kehidupan dengan apa yang tertoreh di dalam lembaran ini. Bunda titipkan sepotong pesan pada kertas ini, karena, selain kertas ini akan utuh. Kertas Ini juga merupakan satu-satunya sahabat setia yang bisa menyampaikan petuah-petuah Bunda kepada seseorang yang sangat disayang oleh Bunda.

Sebagai seorang bunda siapa yang tidak ingin melihat anaknya hidup bahagia? Bunda macam apapun mesti menginkan yang satu itu. Mengapa tidak? bukankah kasih sayang ibu kepada anaknya tak terhingga, dan tak harap kembali. Ia akan berkorban apapun dan tak pernah mengharapkan imbalan, sekecil atompun, tidak! tapi sayang Bunda tidak bisa memberi lebih tentang kebahagian karena di sisi lain ada yang lebih berharga dalam hidup ini, ia adalah jati diri kehidupan. Kau harus tau bagaimana jalan kehidupan yang sesungguhnya...

Dalam kehidupan ini, satu hal yang sangat penting dan tak bisa kita tinggalkan, ia adalah ikhtiyar dan doa. Selama kita masih dinyatakan hidup, jangan pernah menyerah dalam melakukan sesuatu! Teruslah lakukan usaha, karena berusaha adalah satu-satunya cara yang menjadi penawar dari segala tantangan kehidupan.

Lakukanlah usaha, jangan pernah menoleh dalam melangkah untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, meski kerikil tajam selalu mengiringi setiap langkah, karena memang sejatinya hidup demikian. Mengapa demikian? Bukannya hidup adalah tantangan yang harus kita lalui dengan begitu sukar. Yah, begitulah hidup!

Satu yang Bunda inginkan… jadilah orang sholeh atau sholehah. Yang setia mengirim berkarung-karung do’a untuk menciptakan senyum merekah Bunda di sana. Karena satu-satunya sahabat yang paling setia menemani Bunda di Alam sana adalah sepenggal do’a yang terlahir dari hati seorang anak yang sholeh atau sholehah.

Rasa sedih yang sejak tadi menyesak dalam benakku, kini pecah sudah dan sempurna menerobos melalui sel-sel saraf tubuh, membuat kedua mataku bersimbah air mata sungguh aku tak bisa menahannya. Untuk kali saja aku sempurna menangis, menimang sepotong rindu kepada Bunda tercinta.

Bunda… aku sangat merindukanmu….Aku Sangat menyangimu… Sungguh ku tak bisa berpijak hidup jika semuanya lepas dari pelukan manismu. Aku ingin hidup dan matiku bersamamu…Bunda… tapi… tapi, mengapa kau pergi jauh tinggalkan aku sendirian sesedih in?

***
Mendung yang berarak sejak tadi diatas sana luruh…dan  mengguyur seantero permukaan bumi(*)


|Banyuanyar, 26 Desember 2013

|Penulis adalah seorang pengelana yang terdampar di Bumi FLP R. Banyuanyar

Share:
Read More

NYANYIAN UNTUK BUNDA






®M Siryi Zamil

Bunda…
Sungguh sadis kau, Bun! Kemana saja Bunda pergi? Taukah bahwa tanpa Bunda,  hidupku menjadi sepi dan sunyi? Daripada aku ditinggal sendirian, mengapa Bunda tidak mengajakku saja ke tempat dimana Bunda berada?

Aku ingin hidup bersama Bunda dan ingin menghembuskan nafas terakhirku bersama Bunda. Tapi… dimana Bunda sekarang? Aku sangat merindukan Bunda. Meski aku tidak pernah  tau seperti apa rona wajah Bunda yang mungkin sangat anggun sekali laksana bulan yang menjadi penerang malam, aku ingin sekali berjumpa Bunda, sekalipun hanya dalam mimpi.

Namun, aku tidak tau tentang keberadaan Bunda… Ataupun takdir telah berkata lain bahwa hidupku harus seperti ini, tanpa seorang Bunda. Aku harus bagaimana?

***
Hidupku melanglang buana…
Waktu hanya terkubur tanpa sedikitpun rasa damai yang hinggap dalam hidupku. Hari-hariku hanya kulalui dengan penuh tanda tanya. “Siapa bundaku sebenarnya? Dimana dan bagaimana keadaannya? Apakah sekarang baik-baik saja?” Kucoba beranikan diri menanyakan hal itu kepada Ayah. Tapi, Ayah tidak pernah memberi jawaban yang pasti tentangnya. Ayah pun hanya geleng-geleng kepala, unclear! diraihnya kaca matanya lalu mengajakku berjalan-jalan di sekeliling pelataran rumah. Melihat rerimbunan pohon-pohon singkong yang begitu rindang dan subur sekali.

Kualihkan tanda tanya yang nyaris meledak di kepalaku itu kepada Ayunda. Ih! Ia malah  hanya mengatakan bahwa Bunda sedang pergi jauh ke suatu tempat. Entahlah dimana tempat itu. Sungguh bingung! Aku tak mengerti jawaban yang dilontarkannya.
“Dimana, sih, gerangan?” ucapku dalam hati.

Di sebuah rumah yang serba sederhana dan jauh dari ketidakcukupan, aku mengukir hidup bersama Ayah, Ayunda dan adikku yang masih berusia balita. Tanpa belaian seorang Bunda yang telah  melahirkan aku ke dunia fana ini. Sungguh sunyi rasanya menjalankan hidup sedemikian itu. Tapi, sudahlah! Ada baiknya, bahkan lebih baik jikalau dengan penuh lapang dada menerima semua itu.
Manusia hanya dapat berusaha tapi tuhanlah yang menentukan!

***
“Kasihan sekali Ayah...!”
Ia tak pernah mengenal lelah dan letih untuk mencari sepeser uang dan sesuap nasi demi kita semua di rumah. Bahkan, Ayah telah menyekolahkanku dan mencukupi semua kebutuhanku. Andaikan saja ada Bunda, pasti Ayah tak separah dan sekeras itu bekerja. Aku yakin Bunda rajin sekali dan sangat perhatian untuk mengurusi semuanya tentangku, juga kakak –adikku di rumah.

Tapi…
Alhamdulillah! Semuanya baik-baik saja dan bisa terurusi dengan baik hanya karena  jerih payah Ayah. Aku pun bisa menjalankan aktifitasku dengan baik. Andai Bunda tahu tentang semangat belajarku dan kerajinanku, mungkin Bunda akan menangis dengan tangisan haru.

“Bun… Sekarang aku sudah duduk di bangku kelas lima. Kemaren, Ustadz sendiri yang memindahkanku ke kelas itu. Tidak hanya itu, Bunda pasti lebih haru dan lebih gembira lagi kalau Bunda tahu kejadian kemaren ketika diumumkan bahwa peraih bintang pelajar di madrasah adalah anak Bunda sendiri. Aku, Bun. Aku Rindu Bunda… Sungguh mengharukan. Bahkan, secercah air mata mengalir di pipi Ayah yang tak cembung lagi saat menjadi pendampingku bersama Kyai yang selalu menyuruhku untuk tabah dan sabar mengemban kehidupan nan nestapa ini. Aku pun juga melinangkan berbulir-bulir air mata dengan rasa haruku dalam belaian kasih sayang-nya.”

***
Guliran waktu begitu cepat, entahlah tentang kehidupan…

Ya  Allah…
Kasihanilah hambaMu ini! Hamba tak pernah henti mengingatMu dan berharap keserasian hidup dariMu. Tapi, tapi... mengapa Engkau malah melabuhkan tragedi yang sangat tidak diinginkan? Bukankah Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Dan selalu menyayangi  hambaMu yang patuh akan seluruh titah kuasaMu?

Ya Allah…
Tidak taukah Engkau bahwa hamba tak pernah mencicipi seperti apa manisnya kehidupan fana? Sungguh tega, Engkau membagikan semua ini padaku. Sampai kapan hidup ini berubah dengan perubahan yang tidak lagi nestapa? Atau mungkin, memang aku harus hidup untuk keterpurukan  ini...

Ya  Allah...
Sungguh aku tak rela dengan sosok tubuh yang tengah terbaring di atas ranjang itu yang sesaat lagi akan dikafankan dan dikembalikan ke tempat asalnya. Ia adalah seseorang yang sejak dulu mengajariku seperti apa sejatinya kehidupan. Mengajariku tentang bagaimana berpijak hidup yang sesungguhnya, meskipun hidup bagiku adalah neraka yang mengekang dan menerkam.

Ya Allah…
Tidak taukah Engkau bahwa semenjak aku menghirup udara fanaMu ini, hidupku tidak bisa dikatakan bertepuk tangan. Hidup yang menurutku ada rasa kehilangan, kehilangan seorang Bunda yang telah melahirkanku ke alamMu ini. Dan kini, malah kau mezadahnya. Sungguh, hidup ini tambah sengsara, sengsara yang tiada tara. Tidak kasihankah Engkau kepada hambamu ini? Mana Maha PengasihMu? Mana Maha PenyayangMu? Ataukah semua itu hanya lantunan belaka?

***
Yah...
Aku sangat cinta Ayah...
Aku sangat rindu Ayah...
Dan aku sangat kasihan sekali sama Ayah...

Yah...
Baru aku sadar setelah kepergian Ayah untuk selamanya bahwa begitu banyak kemungkaran yang telah kuperbuat kepada Ayah. Aku mohon, maafkanlah aku, Yah... Maafkan, Aku tidak bisa  berbuat apa…

Aku hanya seorang hamba biasa yang hanya bisa menitikkan air mata atas tragedi ini. Aku sangat menyesal, Yah...

Sejak dulu, aku tak pernah menghiraukan seruan Ayah dan nasehat Ayah. Bahkan,  selalu membiarkan Ayah pergi membanting tulang sendirian. Ketika itu Ayah mendaki gunung dan di sanalah Ayah banyak menemukan benda-benda berharga untuk kebutuhan kita di rumah. Benar, kan, Yah...

Andaikan aku sudah tahu bahwa Ayah akan dipatuk seekor ular kemarin hari, pasti aku akan menemani Ayah untuk memberi tahu bahwa ada seekor ular yang siap mematuk betis Ayah. Kemudian membantu Ayah mencari umbi-umbian. Tapi kini, tidaklah waktu kembali mengulangnya, sekalipun aku ingin mengundurnya kembali. Sia-sia hanya.

Sekali lagi, Yah…
Aku mohon, maafkanlah aku! Sejak dulu aku hidup hanya merepotkan dan menggelisahkan Ayah. Ketika Ayah harus menyekolahkanku, ketika Ayah harus membelikan seragam untukku dan ketika aku meminta uang saku dengan paksa pada Ayah setiap aku hendak berangkat sekolah. Sungguh banyak kuantitas dosa yang telah aku timbunkan pada diri Ayah selama itu. Dan kini, aku tidak dapat berbuat apa-apa atas kelancangan itu, yah…! Aku hanya bisa menyadarinya saat tragedi itu sudah berlalu.

Yah...
Tanpa Ayah, aku merasa sepi dan sunyi. Bahkan, aku tak bisa menentukan mau melangkah ke mana aku mencari hidup? Tapi, bukan berarti aku tidak memiliki impian untuk melatarbelakangi hidup ini. Sekarang aku sudah lulus sekolah dasar, tinggal melanjutkan saja pada jenjang yang lebih tinggi. Tapi sayang, Yah! Aku tidak punya siapa-siapa untuk membiayai sekolahku suatu saat nanti. Yang pasti, aku tidak bisa melanjutkan impian itu,meski targetku sendiri paling tidak harus menyelesaikan Aliyah.

Ya, dulu, ketika ada Ayah, Ayah sendiri yang mengurusi semuanya. Tapi untuk saat ini, siapa lagi yang akan menggantikan posisi Ayah? Memang masih ada Ayunda. Tapi, ia sudah memiliki tanggung jawab lain yang tidak boleh dilalaikan, apalagi ditinggalkan. Ia sudah berkeluarga dan sebentar lagi ia akan melahirkan belahan jiwanya. Keluarga kita akan bertambah. Ayah senang, kan?

Tapi… tapi… kapan Bunda akan kembali untuk menjadi pengganti Ayah. Kata Ayunda, dua tahun yang lalu, Bunda masih pergi ke suatu tempat. Entahlah dimana tempat itu. Aku masih belum sempat menanyakan kembali kepadanya. Semoga Bunda baik-baik saja dan segera kembali untukku. Ya, kan, Yah? Amien!

***
EPILOG
Setelah semuanya jelas terungkap…

“Tidak ! Semua itu tidak mungkin ! Tidak mungkin!” Aku tidak peduli kalau Bunda telah pergi jauh sebagaimana Ayah. Aku belum bertemu Bunda. Aku masih belum melihat wajahnya sedikitpun. Jika memang Bunda telah pergi, mengapa harus sekarang Ayunda mengungkapkan semua itu padaku? Mengapa tidak dulu saja ketika aku selalu bertanya-tanya tentang Bunda? Mengapa...?

Sungguh perih sekali hati ini, Yun! Yang masih terbengkalai untuk kutangisi lantaran harus menambah lagi kesedihan yang sangat menyakitkan. Untuk apa semua itu bagiku, Yun? Kuhanya semakin resah dan bersedih. Hati ini hancur sudah dengan tragedi Ayah.

Aku benar-benar benci kau, adikku...! Kau adalah penyebab atas kematian Bunda saat Bunda melahirkanmu. Kau Kejam!  Sungguh kejam dirimu, Adikku...

Mulai detik ini, aku tidak mau menganggap engkau sebagai adikku lagi. Justru kau adalah musuhku yang nyata selamanya. Begitulah kisah masa laluku saat sedih membelenggu. (*)

|Pamekasan, 27 maret 2013
Share:
Read More

KATA ORANG, TUBUHKU BERBENTUK TIKUS


Sudah terlalu sering aku mencoba mengeluh, mengeluh sebab tubuhku yang tidak nyaman; bau, gatal, gersang dan segala macam rasa yang tidak seperti biasanya aku rasakan. Aku benci tubuhku sendiri. Aku muak. Andai ruhku bisa aku pindah ke jazad lain, akan aku pindah. Aku benar-benar tidak betah dan tidak kerasan bertahan dalam tubuhku.

“Duhai orang yang menyihir tubuhku, kembalikan tubuhku akan sedia kala. Kembalikan!” Hanya kalimat itulah yang sering aku lontarkan dengan nada suara berangku. Namun seolah tiada seorangpun yang mendengar jeritanku. Aku pun hanya bisa menangis, sebab aku tidak ingin tubuhku menjadi aneh, yang kecil seukuran kaki manusia, bahkan bisa saja aku terkena injak kaki manusia kalau mereka tidak melihatku.

Aku tidak tau siapa yang membuat tubuhku begitu. Tapi sebelum tubuhku benar-benar berubah menjadi kecil seperti saat ini. Aku sempat mendengar lengkingan suara dari kamar sebelah, di rumahku. Kata orang suara seperti itu merdu, indah, enak didengar atau bahkan menyejukkan hati. Tapi tidak bagiku, aku sangat benci suara itu, sebab suara itu sering mengganggu ketenanganku. Aku memang sangat kenal pada suara itu, suara yang sering kali membuat diriku gelisah. Kau tau suara apa gerangan?  Ia adalah suara bacaan Al Qur'an yang dibacakan ibuku. Hampir setiap sore, suara itu terdengar, menganggu aktivitas dan ketenanganku. Ya, suara itu mengganggu aktivitasku, mengganggu saat aku sedang menelpon kekasihku, atau saat aku menonton televisi dengan asyiknya.

Kebetulan, waktu itu aku tengah serius dan tidak bisa diganggu oleh siapapun, karena aku sedang asyik Chatting-an dengan kekasihku. Tapi suara itu yang terus menggangguku. Aku berang. Lalu aku bangkit dan beranjak dari ranjang empukku, mendatangi suara itu di kamar ibu yang bersebelahan dengan kamarku. Ibu sedang membaca Al-Quran. Aku melihatnya dengan penuh amarah, dan memarahinya.

“Bu, hentikan bacaanya!” Sergahku dengan nada keras. Lalu, aku ambil kitab Al-Quran yang seukuran kantong saku Itu. dan dilemparnya ke luar jendela. Ibuku terperangah, memaku. Dia hanya geleng-geleng kepala, didengarnya kata Astsghfirullah!dari mulut manisnya. Aku yakin, dia berpikir mengapa aku berani-beraninya melempar Al-Quran kecil itu keluar jendela. Bukannya semua orang, termasuk aku memulyakan kitab suci itu? tak banyak basa-basi lagi, beranjaklah aku  menuju ranjang yang menjadi tempat favoritku, dan kembali memebaringkan tubuh, ditemani BB-ku .

Dan sejak itulah tubuhku terasa ringan dan terasa mungil diatas ranjang empukku yang lapang itu. Akupun menjadi gelisah, bahkan menangis, memanggil –manggil “Ada apa dengan tubuhku? ”. Aku kekacauan dalam kamarku itu sendiri. Lebih lagi saat tampak jelas bahwa kulitku berbulu abu-abu, dan berbuntut halus nan panjang. Ih! Aku sendiri jijik melihatnya. Aku tidak ingin kulit hina itu adalah kulitku yang sebenarnya. Tapi, kulit itu melekat di tubuhku. Ya, kulit itu benar-benar menjadi milikku. Entahlah apa penyebabnya? Makanan? Tidak! aku selalu makan makanan yang  bergizi dan bervitamin. Ataupun  ini adalah  Kerama Ibu. Karena kata orang seorang ibu itu menyimpan banyak kebohongan, yang membuat dirinya mulya bagi seorang anaknya. Maafkan aku, ibu, anakmu!

Ada banyak orang di rumahku. Para Tetangga, Mereka mendatangi rumahku, karena hanya mau melihat keadaanku yang sedemikian itu.  aku tidak apa mereka mau menjengukku atau hanya menonton tubuhku yang aneh itu saja. aku menjadi malu, saat melihat mereka yang menutup hidung, dan mendengus jijik, seakan tidak suka dengan keberadaanku yang seperti itu.  mungkin karena tubuhku bau, atau menjijikan baginya.

Sebenarnya aku ingin sekali menjauh dari pandangan mereka, tapi, tubuhku, tubuhku seakan tak bertenaga, aku merasa malas sekali untuk dapat beringsut dan bersembunyi di balik Soprei di atas ranjang itu.

Lagi-lagi aku merasa malu, sangat teramat malu, saat semua yang menyaksikanku berkata bahwa tubuhku mirip binatang buronan orang-orang rumah, lantaran selalu mencuri hasil panen mereka. Ya, makhluk sepertiku yang selalu mencuri makan seperti gandum, jagung, padi milik kaum petani.

Kata orang, tubuhku mirip sekali dengan Tikus. Hah Tikus???


|Ef-El-Pe- Sepuluh*)
|Lantai II, Serambi Masjid | 06 Maret 2014
Share:
Read More

COGITO ERGO SUM

"Allah itu siapa? Dimana dan sedang apa sekarang? Aku ingin mengenalnya..."

®M Siryi Zamil
***

Buk! Buk! Entah berapa ratus kali pentungan itu menyambar tubuhku. Tubuhku melemas. Tak berdaya. Tak peduli aku melolong sakit dan minta tolong. Nihil. Kau tau... sekujur tubuhku memar,  lebam, bengkak dan seolah seluruh tulang tubuhku remuk. Entah barang keras apa saja yang hinggap di sekujur tubuhku lantaran onar yang aku perbuat di sebuah mesjid beberapa menit lalu.

Tak cukup itu saja, mereka juga menyeret tubuhku di sepanjang jalan sembari berteriak ”ini malingnya yang selalu mencuri uang amal mesjid” begitu kata mereka. Aku dipertontonkan pada orang orang sekampung di tempat itu dan dibilang pencuri uang di kotak amal mesjid yang sering habis saat tiba waktunya diambil oleh muadzin mesjid. Aku tidak merasa menjadi pelaku akan hal itu karena jujur hanya kali ini saja aku kebetulan mampir di mesjid itu.

Sebelumnya, aku tidak kenal mesjid itu. Ya, aku sama sekali tidak kenal mesjid itu dan daerah mana.

“orang ini harus dihabisin!” sergah salah seorang dari mereka sesekali dilayangkan sebuah pukulan keras. Yang lain pun berteriak setuju sembari menuding-nuding dengan berang ke arahku. Aku tidak bisa lagi mengelak dengan sergahan mereka. Aku hanya bisa pasrah saja.
Beberapa jenak kemudian datang seorang nan gagah dengan pakaian serba putih.

“Ini pak kiai yang selalu mencuri uang amal di mesjid itu!” ucap salah satu dari mereka. Menunjuk ke araku lagi.

“Ya, pak kiai ini harus dikasih pelajaran agar kampung ini aman!” tambah lainnya dengan suara ribut.

“Semuanya, diharap tenang, menghadapi masalah seperti ini, bukan seperti itu caranya. Kita tidak boleh sembarangan menuduh. Kita harus tau terlebih dahulu apakah orang yang dituduh itu betul atau tidak menurut saksi yang shah.” Jelas pak kiai itu. Menyejukkan rasanya mendengar kata-katanya yang bijak.
“Lebih baik kalian bubar saja biar saya yang bicara dengan orang ini” tambahnya. Tak satupun diantara mereka yang bersuara. Mereka menuruti perkataannya.

Tragedi itu mengundang rasa sesal yang tiada tara dalam diriku dan hal itu terjadi karena kekhilafan yang aku lakukan, yaitu selalu membangkang perkataan abah dan ummi semenjak berada di rumah hingga saat ini. Ya, pada waktu itu pagi-pagi sekali aku meringkuk di kamar. Dari luar pintu entah sudah berapa kali suara ummi memanggil-manggil sambil mengetuk-ngetuk pintu namun aku tidak menggubrisnya sama sekali. aku tidak menghiraukan suara ummi lantaran memperbaiki selimut tidur dan berusaha untuk tidur lebih nyenyak lagi. aku tau mengapa ummi mendatangi kamarku sebelum pajar mengumbar di ufuk timur tiada lain agar aku segera bangun dan menyegerakan shalat shubuh sebelum waktu shalat shubuh benar-benar tiada, seperti hari hari sebelumnya. 
Tapi bagiku, shalat itu untuk apa sich. Bukankah mengerjakannya hanya membuang-buang waktu saja. Tidak ada gunanya. Coba kita pikir abah dan ummi tiap hari shalat, tiap malam shalat, tiap shubuh shalat, shalat shalat shalat selalu shalat, tapi tak ada imbalan apapun yang mereka terima. Palingan Cuma payahnya saja yang ada. Lantas, buat apa mengerjakan shalat yang katanya untuk menyembah tuhan yang bernama allah. Hanya buang-buang tenaga menyembah tuhan yang tidak tau seperti apa rupanya.

Hampir setiap pagi ummi mengetuk-ngetuk pintu. Sudah selesai shalat? Begitu ucapnya juga pada waktu shalat yang lain. Aku pun tak kalah beralasan. Selalu mengatakan ya pada ummi meskipun sejatinya aku adalah orang yang anti shalat atau bahkan paling benci mendengar kata shalat dan sebangsanya.

Akhirnya semua keluargaku tidak mampu juga meningkahi sikapku yang demikian termasuk ummi. Dia sudah tidak kuat lagi mendidiku dan mulai berusul untuk menempatkan aku ke sebuah pondok pesantren kepada abah. Abah adalah seorang tokoh masyarakat yang disegani banyak orang di kampungku. Ya, hampir semua orang di kampungku yang takluk akan kebijakan abah. Kasih tau Hj. Mustofa dulu. Begitu kata mereka sebelum memvoting keputusan dari suatu perkara. Baru mereka boleh bertindak kalau sudah ada keputusan positif dari abah. Demikian sekilas mengenai abah. Tapi bagiku abah adalah orang yang misterius yang pekerjaannya tiap hari hanya ibadah terus atau lebih terangnya abah adalah orang ahli ibadah menurutku. Selebihnya tidak aku tau.

Abah sepakat dengan pendapat ummi memindahkan aku untuk tinggal di pondok pesantren. Mereka memanggilku dan memberi aku tau panjang lebar mengenai pondok pesantren. Abah bilang bahwa pesantren adalah suatu tempat untuk belajar ilmu agama. Aku hanya menganggukkan kepala. Bertanda setuju. Meskipun sejatinya aku tidak tau ilmu agama itu seperti apa. hanya sebagai tindakan rasa patuh saja pada abah dan ummi. Sementara dalam otakku bertubi-tubi kalimat yang menimpali perkataan abah dan ummi. Tapi mau apa lagi. aku harus menurutinya.

***
Beberapa hari kemudian, kehidupanku harus benar-benar hengkang dari semua keluargaku. kalau semenjak dulu alas tidurku  sprimbed kali berubah bilik bambu dan hambal tipis yang apabila aku tempati membuat kulit gatal, kalau semenjak dulu selalu makan dengan nyaman bersama keluarga kali ini harus mandiri juga kalau dari dulu tempat mandiku mewah tanpa sedikitpun kekurangan air namun kali ini selalu merasa tidak puas karena untuk cuci mukapun harus berebutan dengan santri- santri yang lain. Mengurangi kepadatan saat antrian yang begitu banyak, aku sering memutuskan pergi ke sungai yang berada di sebelah selatan pondok. Begitulah kehidupan di sebuah pondok pesantren AL- HIDAYAT, yang berada di daerah kabupaten Pamekasan, sebuah kabupaten yang dikenal daerah pendidikan dari empat kabupaten di Madura.

Satu, dua, tiga hari, aku mulai tidak kerasan di pesantren itu. rasa gelisah, bosan dan lain sebagainya semakin menghantuiku. Semua yang tidak aku sukai saat berada di rumah menjadi sempurna di tempat guna belajar ilmu agama tersebut. Mulai shalat berjamaah lima waktu yang wajib bagi semua penghuni disana, mengaji kitab juga belajar baca al-quran yang sering menggangu tidur nyenyakku saat terdengar suara ummi membacanya dulu di rumah. Aku pun mulai memahami bahwa ilmu agama adalah hal yang selama ini aku benci. Ya. Aku sangat benci ilmu agama. Aku tidak mau belajar itu aku tidak mau belajar itu... aku tidak mau...

Telah aku putuskan bahwa aku tidak angin belajar ilmu agama itu. hingga akhirnya aku nekad kabur dari pondok pesantren AL-HIDAYAT tanpa memberi tau abah dan ummi juga pengurus pesantren yang selalu menindak santri yang tidak shalat berjemaah dan bolos mengaji kitab. Ini tempat iblis. Begitu batinku mengecam pesantren itu.

Semenjak itu kehidupanku berubah menjadi gelandangan yang hanya keluyuran di sepanjang jalan. Dan yang sering aku lakukan sebagai obat dari kegelisahan hati ini, aku selalu mampir di bar, meminum zat beralkohol itu dengan sebanyak banyaknya hingga membuat diriku jauh dari kendali pikiran normalku. Dan dalam pada itu, aku berjalan gontai menuju sebuah mesjid dengan tawa yang terus berbahak sembari memanggil nama Allah dengan tak karuan.

“Allah, dimana kau sekarang? ini aku sudah datang ingin bertemu kamu... hahha... dimana kau sekarang keluarlah!” ucapku lantang dalam mesjid itu. Tanpa menghiraukan tempat itu suci. Aku menginjakkan kaki dengan seenaknya tanpa melepas sandal yang entah telah berepa kali menyentuh barang najis. Akibat itulah aku dikroyok dan diseret massal oleh orang-orang  sekampung. Hingga tubuhku tak berdaya.

Hidupku terasa berbeda setelah tinggal bersama kiai itu. hatiku damai dan tenang saat bertatapan dengannya. kata-katanya yang lemah lembut seakan menggetarkan jiwa, hatinya yang mulia bagai berlian yang mengkilau bagiku.

Indah. Sungguh, orang itu itu menyejukkan jiwa, bagai rinai hujan dalam kemarau hatiku.
Rasa ingin berguru pada orang berjubah putih itu mulai timbul. Ya. Dengan hadirnya rasa damai saat berada di dekatnya itu membuatku ingin belajar hidup padanya.

***
Tubuhku tidak bisa kugerakkan. Rasa sakit dan  ngilu di sekujur tubuhku membuatku harus terbaring lama di ranjang tua pak kiai. Rasanya aku butuh waktu yang lama untuk bisa bergerak dan beraktivitas. Namun begitu aku harus segera sembuh lantaran agar tidak terlalu merepotkan kiai itu. seharusnya aku tidak mendapatkan pertolongan sebaik ini karena aku adalah orang yang telah mengkacaukan masyarakat sekampung. Nah itu yang membuatku harus belajar sesuatu dari kiai nan bijak itu.

“Sudahkah ada perkembangan dengan kondisimu, nduk?” tanya kiai itu menghampiri ranjang yang aku tempati.

“Terimakasih banyak kiai!” ucapku sambil berusaha bangun untuk meraih tangannya yang mulai keriput namun aku gagal melakukannya lantaran rasa sakit yang teramat sangat merantai tubuhku. Aku merasa sangat bersalah atas kejadian hari kemarin.

Aku ingin sekali mencium tangan orang tua itu dan meminta maaf padanya. namun aku masih belum bisa melakukan itu sepenuhnya. Aku hanya bisa menitikkan buliran air mata saat semua itu aku sadari.

“Berterima kasihlah pada Allah, nduk! ” ucap kiai itu membuatku tidak paham.

“Allah itu siapa kiai?” tanyaku antusia dengan kata yang satu itu.

Semenjak sebelumnya aku tidak pernah suka mendengar kata-kata itu. karena aku mengira dia hanya sebatas nama benda yang antik.

“Allah itu adalah tuhan semesta alam, dia yang menciptakan kita, serta mengendalikan semuanya, nduk! Berterimakasihlah padaNya, karena sesungguhnya, dia yang mengizinkanmu untuk berada di tempat ini” jelasnya panjang membuatku semakin paham tentang nama itu.
“Sedang apa dan dimana dia sekarang, kiai?” tanyaku selidik.

“Dia sekarang sedang  mengidzinkan kita berdialog tentang-Nya, nduk. Dia tak berumah seperti kita, tak punya bapak dan ibu, tidak pula beranak! Dia tak bertempat, tapi dimana kita berada, dia mengetahuinya. Itulah tuhan kita Allah, nduk! ” ucapnya.

“kiai, ajarilah aku ilmu agama. Aku ingin kenal denganya!” kataku memohon. Aku merasa sangat berdosa padaNya karena lebih dari sering aku menyukutukan Allah. Aku ingin minta ampun dan bertaubat padaNya. aku merasa sangat berdosa padanya. Ya berdosa.
 “tenangkan dulu kondisimu, nduk! Soal itu, aku sangat bersedia. Aku punya teman disana. dia adalah pakar agama yang pernah mengajariku ” ucap kiai itu padaku yang tergolek.

“kalau boleh tau siapa orangt itu, kiai?” tanyaku menyelidik.

“Dia adalah Hj. Mustofa, berkediaman kabupaten Sumenep”

Degg! Apa benar dia adalah abah?

***

EPILOG

Asyhada Allah Ilaha Illallah Wasyhadu Anna Muhammadurrasulullah...

Dengan hati yang tulus, tergumam dari suara nan lirih dari mulutku, disaksikan langit dan bumi, aku melafadzkan Syahadatain. Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad utusanNya.

Abah. Abah adalah guru agamaku yang memperkenalkan aku kepada Allah. Allahuakbar...(*) 

|Banyuanyar |17 Februari 2015
Share:
Read More

NYANYIAN UNTUK AYAH

"Sakitilah orang tuamu, maka kau akan merasakan penyesalan sebesar jagat raya"

®M Siryi Zamil


Engkau melihat sekarang ayahmu berada di depan matamu. Ternyata tangan itu adalah tangan ayahmu yang dingin dan tak  bergerak, lantaran aliran oksigen yang tak lagi ikut terpompa bersama aliran darah dari jantungnya. Sekarang engkau melihat sosok ayahmu yang setiap hari kau marahi dan hardik itu terbujur di depan matamu. Ayahmu telah pergi ....

***

Ingatlah, apa saja yang telah kau perbuat kepada ayahmu. Betapa sering perbuatan yang kau lakukan selama ini sangat menyayat hati ayahmu, ketika kau bermanja dalam meminta sesuatu kesukaanmu tanpa berpikir betapa sulit ayahmu harus mendapatinya. Engkau memaksa, padahal untuk medapatkan sesuatu tersebut, ayahmu harus pergi ke sawah menyangkul, menyiksa tubuh di bawah terik panas matahari dan banyak lagi kerja keras lainnya. Lihatlah, lihatlah, pagi buta ayahmu pergi  dan sore ayahmu pulang. Lihatlah, baju ayahmu yang basah dengan keringat saat pulang dari kerjanya. semua demi memberi sesuap nasi dan uang jajan harianmu.

Sejak dulu ayahmu Ingin sekali membeli baju baru, tapi ayahmu selalu tahan supaya kau bisa beli baju baru, supaya kau tidak malu dengan teman temanmu. Sejak dulu Ayahmu ingin beli sandal baru, tapi ayahmu selalu tahan supaya kau bisa beli sepatu baru, supaya kau sama dengan teman-temanmu. Namun begitu kau selalu  saja meminta sesuatu  kesukaanmu yang harganya sangat mahal. Ya, engkau meminta ayahmu untuk membelikan handphone baru dan sepeda baru. Engkau katakan kepada ayahmu sambil menangis, bahwa kau tidak ingin sekolah jikalau tidak dibelikan handphone dan sepeda baru. Ayahmu bilang bahwa uang yang dimiliki tidak cukup untuk beli barang semahal itu,  namun Engkau masih saja memaksa dan marah kepada ayahmu. Ayahmu hanya diam, lalu dia pergi ke tetangga sebelah rumahmu, mencari pinjaman uang untuk beli handphone dan sepeda baru untukmu.

Setelah ayahmu membelikanmu barang itu, kau sangat senang. Kau tidak sadar bahwa di balik kesenanganmu, ada tumpukan hutang yang ayahmu sembunyikan darimu. Iya, ayahmu terbeban hutang bahkan sampai merasa tidak mampu bagaimana untuk melunasi hutang hutang tersebut. Pikirannya bingung,  badannya terasa lemah. Ayahmu mulai sakit sakitan, tetapi  kau asyik keluyuran dengan sepeda barumu bersama teman-temanmu.

Engkau pulang, tiba di rumahmu, kau melihat kerumunan orang orang di dalam rumahmu. Kau bingung dan bertanya apa yang terjadi,  lalu kau menghampiri kerumunan itu dan melihat sesosok tubuh yang ditutupi kain. Ternyata... tubuh yang tertutup kain itu adalah ayahmu, iyah dia ayahmu... Seketika kau  histeris, berteriak selantang lantangnya... Ayah!

Engkau  jadi teringat saat beberapa hari lalu saat  melihat wajahnya yang semakin tua dan layu karena memikirkan masa depanmu. Engkau melihat wajahnya yang semakin tua dan layu karena melihat anaknya yang tidak pernah menurut dengan perkataanya. Engkau melihat wajahnya yang semakin tua dan layu karena mungkin ayahmu sedang sakit.  Engkau melihat wajahnya yang semakin tua dan rambutnya semakin putih karena ayahmu menderita penyakit kronis yang ayahmu tidak ceritakan kepadamu lantaran takut mengganggu pelajaranmu.

Saat ini kau sadar bahwa ayahmu adalah sesosok yang sangat sayang kepadamu. Kau ingat dan membayangkan saat kecil dulu, saat ayahmu tersenyum kepadamu, senyum yang sangat indah, lalu mengecup keningmu, dan mengusap wajahmu, ayahmu mengusap keningmu saat kau sedih di waktu TK dulu, lalu memelukmu membuat dirimu merasakan energi cinta dan keikhlasan mengalir dalam urat nadimu. Betapa besar kasih sayangnya kepadamu... Namun saat ini, ayah pergi meninggalkanmu.

Saat ini kau hanya bisa berteriak diiringi tangis yang meraung raung...

***

Ibumu membisik di telingamu : " Ayahmu memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darahnya... Ayah memang tidak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama kau dengar ketika lahir untuk menenangkan jiwamu.... Ayah memang tidak menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu... Ayah memang tidak menyanyikanmu, agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap nyaman dalam lelapmu... Ayah memang tidak mendekapmu seerat ibumu, itu karena dia khawatir karena cintanya ia tidak bisa melepaskanmu...

Sayangi dan hormati ayahmu... memang surga ada di telapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa keridhaannya... Memang kau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu...

Dan kali ini ayahmu pergi untuk selamanya... Wahai anakku yang ibu cintai, relakanlah ayahmu pergi... doakan semoga ayahmu tenang di alam sana...  Maafakan ayahmu apabila kau merasa resah lantaran ayahmu  terlalu mengatur hidupmu, nak... ketika ayahmu senantiasa menyuruhmu sholat lima waktu, ketika ayahmu senantiasa menyuruhmu belajar dan mematikan televisi, ketika ayahmu senantiasa menyuruhmu berbakti kepada ibu dan ayah... Sebenarnya ayahmu tidak minta apa apa nak,  ayah dan ibumu hanya minta doakan satu menit saja setelah sholat sholatmu, nak... Ayah dan ibumu menginginkan kau menjadi anak yang baik dan sholeh yang setia berbakti dan mendoakan ayah dan ibumu setelah tiada kelak...

Engkau  memeluk ibumu, sembari berlinangan air mata. Hatimu memanjatkan doa doa.

"Robbigh firli waliwa lidayya warhamhuma kama robbaya ni sho ghiroo...

Ya Allah, maafkan hamba dan maafkan dosa orang tua hamba. Sayangi mereka sama saat mereka menyayangiku saat kecil dulu... Lindungi mereka sama saat mereka melindungiku dulu seolah tubuhnya menjadi selimut, tidak rela satu  nyamuk pun menyentuh kulitku. Sayangi mereka sama saat mereka menemaniiku di rumah sakit dulu. Sayangi mereka sama dengan saat mereka menghantarku  sekolah TK dulu, sama dengan ketika  memasakan aku makanan kesukaanku, padahal mereka masih belum sarapan untuk mengisi perutnya. Dan mereka selalu mendoakan demi kesuksesanku. Sayangi mereka, Ya Allah...  Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka....  Aku akan mengajaknya bertowaf di baitullah...  Aku ingin sekali mengajak menggandeng tangannya untuk ber sa'e  antara Sofa dan Marwah, untuk berdoa di Raudah dan masjid Nabawi, ya Allah...     Ya Allah berikan kekuatan padaku untuk bahagiakan orang tuaku...*


|Jember, 18 Juli 2018 |Kantor, 22.00


AYAH, KURIMKAN DOA...

Ayah, kukirimkan doa...
semoga engkau tenang di alam surga...
ayah, kan kuingat selalu...
pengorbanan yang telah engkau berikan...

Ayah, terlalu cepat kau pergi...
meninggalkan aku sendiri...
ayah, takl bisa aku ingkari...
tanpa engkau hidupku terasa sunyi...
ayah, dengarkanlah...

Dan teringat saat kepergianmu
kutaburi bunga mawar untukmu...
dan berdoa untuk melepaskanmu...
ayah, berlinang air mataku...
Share:
Read More