Artikel || Opini || Catatan || Cerita || Puisi || Motivasi ¤ BERKARYA UNTUK SEMUA ¤

,

AKTIVITAS MERANGKAI KATA


"Jika tidak berani pada semua orang, bejanjilah pada sepasang mata bahwa dirimu akan terus melangkah"

***

Dengan salah seorang teman baik saya yang tak bisa saya sebutkan. Hampir setiap chatingan, saya ditanya tentang menu tulisan olehnya. Kalau memang saya menulis, saya langsung kirim via WhatsApp-nya, tapi kalau tidak, saya jadi merasa punya hutang setoran padanya. Ya, saya merasa punya hutang padanya, ketika setelah seharian atau beberapa harian tak menghasilkan apapun. Saya jadi merasa ditinggal dan sedikit malu ketika dia mengirimkan karyanya namun saya tak bisa membalasnya dengan karya pula, karena kami sudah saling berjanji untuk tetap rajin berkarya dan saling menukarnya.

Meskipun tidak dengan orang lain, sebetulnya saya telah berulang kali berjanji pada diri saya sendiri untuk membiasakan menulis. Tapi untuk bisa rutin melakukannya kadang kala terhadang dengan kurangnya konsentrasi pikiran, disibukkan pekerjaan dan segala macam halangan.

Sangat perlu untuk dibiasakan selagi itu menjadi kebaikan. Suatu pekerjaan jika sudah rutin dikerjakan, mau sekali saja tanggal, seakan punya hutang besar yang sangat berbeban, seakan menjadi kebutuhan yang harus ada di saat yang sama, dan seakan tercatat dosa besar yang mendatangkan penyesalan. 

Sedikit mirip dengan apa yang dikatakan Mas Sandiaga Unu, bahwa suatu Ibadah kalau sudah rutin kita lakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan.

Saya memang suka menulis. Dulu, sebelum saya boleh memegang handphone, saya menulis di kertas. Saya melakukannya dengan rutin, satu hari satu tulisan, atau setidaknya satu halaman kertas, berurut dengan tanggalnya. Dalam pada itu, saya sangat sulit meninggalkan lembaran kertas meskipun dalam sehari saja. Karena kalau sampai meninggalkannya, saya seolah lagi ditarik setoran, sehingga harus saya ganti di hari berikutnya. Hampir tiga tahun saya melakukannya rutin dan berkelanjutan.

Sama dengan beberapa bulan terakhir ini, saya rutin setiap hari menulis. Namun beberapa hari ini, saya mulai bolos menulis, makanya saya jadi terbeban rindu akan kebiasaan itu. Saya ingin memulainya kembali.

Saya hanya terbesit janji yang tidak tau akan bertahan beberapa lama ke depan. Ya, saya hanya mengungkap janji kecil dalam hati bahwa saya akan setiap hari, ingin selalu bersua menuangkan coretan kata melalui abjad yang mewarnai keyboard handphone saya. Biarlah orang berkata apa dengan ketidaksempurnaan tulisan saya. Saya hanya meyakini bahwa semua usaha saya akan sampai pada muara kesuksesan yang saat ini tak tampak di depan mata.

Saya hanya melakukan usaha dan berharap besar bisa seperti mereka yang namanya terkenang meski telah ratusan tahun tiada. Saya bukan si pemilik tulisan, yang menguasai taktik jitu dalam merajut kata demi kata menjadi kalimat penuh makna. Saya hanya seorang manusia awam yang baru jatuh cinta dengan aktivitas merangkai kata.

Teruslah menulis, karena menulis adalah upaya menghasilakan suatu karya yang tak akan pernah mati. Zaman boleh berlalu meninggalkannya namun goresan tinta selalu terpahat dalam di setiap nalar para pembaca. Kekuatan makna tulisannya mampu mengubah ribuan manusia jahiliah menjadi berkeadaban.

Berjanjilah kepada dirimu, untuk melakukannya dalam kebiasaan, selagi itu mendatangkan kebaikan.


|Penulis : *M Siryi Zamil
|Jember, 12 Agustus 2018 |Room, 09,00
Share:
Read More

PERISTIWA MINGGU YANG TABU

"Jangan paksa saya menyebut namamu lagi, karena namamu dapat memutus hubungan harmonisanku denganNya"

***

Hari ini inspirasi baru yang saya petik dari tulisan salah seorang teman baikku adalah kata "Minggu".

Dalam tulisannya, dia memaparkan bagaimana kegiatan hari Minggu di kampung kelahirannya.

Minggu, kata itu mengingatkan saya pada artikel kecil ust. Moh. Toha, yang pernah saya baca sebelumnya, dimana Artikel itu mengulas tentang kronologis Ahad yang sering kali diganti Minggu. Makanya saya dalam peragraph berikut ini akan berlanjut membahas dan mengutarakan pandangan saya terhadap peristiwa tersebut.

Baiklah, izinkan saya mengulas sedikit tentang hari Minggu yang saat ini lebih digunakan daripada Ahad. Kata "Minggu" diambil dari bahasa Portugis, "Domingo" (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti "Dia Do Senhor", atau "Hari Tuhan Kita"). Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini dieja sebagai "Dominggu" dan baru sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai "Minggu".
Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud "Tuhan kita", bagi yg beribadah di hari minggu.

Reaksi saya, setelah membaca artikel ust. Moh. Toha tersebut, saya jadi sadar, saya pun mencoba lisanku untuk tidak lagi biasa mengatakan Minggu, dan menggantinya dengan Ahad, mrngganti seminggu dengan sepekan. Intinya saya jadi tidak suka kata itu lagi, meskipun orang orang di sekelilingku atau mungkin se tanah airku sangat doyan dengan kata tersebut.

Sejak itu pula saya juga sering menyindir orang orang sekawanku, sebelum kata Ahad tidak terlalu jauh dihilangkan. Karena sudah banyak sekali bahkan dalam kalender penanggalan kita, kata itu tidak lagi dicantumkan, berganti Minggu, ditambah lagi penetapan hari libur nasional yang serentak di hari itu. Tak bisa dibayangkan, pondok pesantren meliburkan kegiatan akademik santrinya di hari itu pula, seolah menjadi hari yang sangat istimewa.

Saya dan mungkin banyak orang lainnya yang sepemikiran, tidaklah mungkin turun jalan untuk mengumumkan itu, tapi setidaknya kami bersuara bahwa era ini bukan lagi perang fisik, tapi perang pemikiran dan peradaban.

Setidaknya kita berpikir bahwa peristiwa mengistimewakan hari yang satu itu memiliki latar belakang. Setidaknya kita berpikir bahwa di hari itu umat lain berlibur dari kerjanya untuk beribadah kepada Tuhannya, namun kita malah mengikutinya berlibur. Sementara di hari yang sudah jelas ditentukan sebagai hari libur dan perkumpulan, kita justru sibuk bekerja dan bahkan meninggalkannya. Ya, hari istimewa kita adalah Jum'at, seharusnya pada hari itu kita mengosongkan kerja, berlibur untuk berkumpul bersama keluarga juga tetangga.

Ternyata tanpa disadari, di saat kita mengistimewakan hari itu sebagai hari rehat berarti sama saja merelakan akidah dan peradaban agama kita terjajah.

Dengannya, saya mulai berjanji untuk tidak biasa menyebut hari Ahad menjadi Minggu dan tidak pula meramaikan kegiatan di malam itu, malming (malam Minggu), yang serba tidak jelas dan cenderung bermaksiat.

Kembali lagi ke peragraph awal, tulisan ini hanyalah sebuah kajian kecil kecilan, bukan reaksi nyirnyiran yang berakibat saling benci dan bermusuhan. Berharap semoga kita terus bersinergi, berbagi solusi, karena bagaimana pun hidup yang indah itu apabila adanya kita dapat memberi arti.]


|Penulis : *M Siryi Zamil
|Jember, 22 Juli 2018 | Room, 09.00
Share:
Read More

NASIB UANG SEKALI MAKAN


 "Apa pentingnya uang ratusan ribu rupiah dengan nasib kotaku lima tahun ke depan"

***

Debat Publik antar pasangan calon bupati Sampang di JTV, Selasa lalu (19 Juni 2018) sedikit membuka tabir koreksi masyarakat terhadap para pasangan calon bupati Sampang. Melalui acara itu masyarakat dapat dengan mudah menilik dan mengkaji lebih dalam untuk menentukan calon pemimpin pilihannya, mulai dari prinsip dan karakternya, keilmuan dan leadershipnya dan juga program kerja mereka untuk menindaklanjuti perkembangan Sampang ke depan. Dan bagaimana sepak terjang mereka terhadap perubahan Sampang ke depan menjadi sorotan utama bagi masyarakat Sampang dan sekitarnya.

Dalam paparan awal saat ketiga pasangan calon menyampaikan program kerja masing masing. Sebagian banyak persoalan yang perlu dihentaskan di kabupaten Sampang mereka menklarifikasinya secara detail dan terbuka. Mulai dari problem sosial, kemiskinan, ekonomi, pendidikan, serta kurang adanya dan meratanya pembangunan di kabupaten Sampang.

Persoalan tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama. Masyarakat Sampang secara umum memiliki kewajiban berupaya untuk meningkatkan moto pendidikan yang dapat dilakukan dengan penambahan  sekolah tinggi dan sekolah-sekolah negeri di bagian daerah-daerah terpencil dan juga program beasiswa bagi masyarakat yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, adanya kepedulian terhadap kaum petani dan peningkatan potensi interpreunership masyarakat untuk mengatasi sebagian persoalan ekonomi, seperti penginvestasian modal dan pemasaran yang saat ini juga dapat dilakukan dengan media online, serta harus adanya pemerataan pembangunan oleh pemerintah, khususnya jalan yang sejauh ini kurang diperhatikan.

Dalam penyampaiannya oleh H. Hermanto Subaidi (calon bupati) dan H. Suparto (calon wakil bupati, sebagai pasangan calon nomor 2, atas nama MANTAP, mereka mengakui bahwa sejauh ini Sampang sebagai daerah paling tertinggal bahkan se-Jawa Timur.

Sebagai masyarakat Sampang, menyaksikannya, saya sedikit merasa sinis,  karena saya sendiri dilahirkan dan dibesarkan, serta juga mengenyam sebagian pendidikan di Sampang, namun sampai saat ini Sampang masih menyandang list sebagai daerah paling tertinggal dari empat kabupaten di Madura, dan bahkan se-Jawa Timur. Sebagai masyarakat Sampang kita harus merasa berhutang budi untuk turut memajukan Sampang lebih baik dan terdepan dalam segala bidang.

Apalagi acara itu tersiar secara terbuka, khususnya kepada masyarakat Madura. Saya terbayang akan menjadi bahan gunjingan teman-teman saat berkumpul bersama mereka yang dari Pamekasan, Sumenep dan Bangkalan di tempat rantau, dimana mereka memang kerap kali melakukan hal tersebut. Sampai mereka pun mengatakan bukan jalan kendaraan, pendidikannya tertinggal, dan tak jarang ketika mereka menggunjing masalah jalan kendaraan, mengatakan “jeren natap”, bagi kami itu sebuah majas yang bisa mengkerutkan daun telinga sepasang.

Dengannya, saya tidak sedang mengkritisi ketiga pasangan calon yang saat ini sedang merebut kursi nomor satu kabupaten Sampang. Hanya saja, saya dan mungkin banyak warga Sampang lainnya mempertanyakan hasil kinerja pemerintah Sampang sekarang dan pada periode silam. Apa kerja mereka selama lima tahun memegang jabatan?

Dalam hati, saya berdoa semoga pertanyaan tersebut juga bersemayam dalam hati para pasangan calon sekarang, khususnya bagi yang nanti mendapat mandat jabatan, untuk nanti dapat berpotensi menimbulkan besarnya rasa peduli terhadap segala bentuk krisis di kabupaten Sampang. Sehingga mereka benar-benar fokus untuk melakukan perubahan, menjadikan Sampang lebih baik ke depan.

Saya juga tidak sedang menjadi timses (tim sukses) dari salah satu pasangan calon yang sekarang. Ya, hati saya tidak terpikat pada calon bupati dan wakil bupati, H. Salamet Junaidi dan H. Abdullah Hidayat, pasangan calon nomor 1, yang bernama JIHAD, meskipun mencitrakan sebagai pejuang dalam Islam, tidak pula jatuh hati pada H. Hisan dan H. Abdullah, pasangan calon nomor 3 dengan nama HISBULLAH  yang berarti partai Allah, apalagi MANTAP, sebagai nomor 2, yang  diprakarsai oleh H. Hermanto Subaidi dan H. Suparto. Itu semua ala lumranya, merupakan bagian bentuk pencitraan, seperti para pasangan calon di tempat-tempat lainnya. Juga belum tentu setelah jadi nanti bisa melebihmajukan Sampang. Akan tetapi kita tetap berusaha dan mendoakan semoga Sampang ke depan menjadi lebih baik dan berkembang serta betul-betul mewujudkan perubahan.

Dengan itu, mari kita kenali calonnya dan tentukan pilihannya. Pilihlah yang sekiranya bisa mengangkat Sampang lebih maju menuju perubahan yang lebih baik dan gemilang.

Berpikirlah untuk Sampang jangka panjang. Bukan seperti kebiasaan masyarakat awam, dimana mereka lebih suka merapat terhadap pasangan calon yang beruang (money politic).

Pikirkan, jangan tukar masa depan Sampang dengan uang sekali makan. Ada baiknya semua masyarakat Sampang untuk berhati- hati dalam memilih pasangan calon pemimpinnya, khususnya bagi mereka yang ber-money politic, karena tanpa disadari mereka sedang menanam modal, awas jika nanti mereka menang memegang jabatan, dia akan kembali menarik modal, melantarkan janji-janji yang telah dikampanyekan. Itulah sebagian besar alasan mengapa suatu daerah tidak bisa berkembang.

Mari bersama, wujudkan perubahan untuk Sampang lebih baik, menuju perubahan gemilang.(*)

|Sampang, 21 Juni 2018

______________________
Penulis : *M Siryi Zamil
Civitas : Forum Silaturrahmi antar Santri dan Alumni Sampang (FORSIASA).*
Share:
Read More

NYANYIAN UNTUK AYAH

"Sakitilah orang tuamu, maka kau akan merasakan penyesalan sebesar jagat raya"

®M Siryi Zamil


Engkau melihat sekarang ayahmu berada di depan matamu. Ternyata tangan itu adalah tangan ayahmu yang dingin dan tak  bergerak, lantaran aliran oksigen yang tak lagi ikut terpompa bersama aliran darah dari jantungnya. Sekarang engkau melihat sosok ayahmu yang setiap hari kau marahi dan hardik itu terbujur di depan matamu. Ayahmu telah pergi ....

***

Ingatlah, apa saja yang telah kau perbuat kepada ayahmu. Betapa sering perbuatan yang kau lakukan selama ini sangat menyayat hati ayahmu, ketika kau bermanja dalam meminta sesuatu kesukaanmu tanpa berpikir betapa sulit ayahmu harus mendapatinya. Engkau memaksa, padahal untuk medapatkan sesuatu tersebut, ayahmu harus pergi ke sawah menyangkul, menyiksa tubuh di bawah terik panas matahari dan banyak lagi kerja keras lainnya. Lihatlah, lihatlah, pagi buta ayahmu pergi  dan sore ayahmu pulang. Lihatlah, baju ayahmu yang basah dengan keringat saat pulang dari kerjanya. semua demi memberi sesuap nasi dan uang jajan harianmu.

Sejak dulu ayahmu Ingin sekali membeli baju baru, tapi ayahmu selalu tahan supaya kau bisa beli baju baru, supaya kau tidak malu dengan teman temanmu. Sejak dulu Ayahmu ingin beli sandal baru, tapi ayahmu selalu tahan supaya kau bisa beli sepatu baru, supaya kau sama dengan teman-temanmu. Namun begitu kau selalu  saja meminta sesuatu  kesukaanmu yang harganya sangat mahal. Ya, engkau meminta ayahmu untuk membelikan handphone baru dan sepeda baru. Engkau katakan kepada ayahmu sambil menangis, bahwa kau tidak ingin sekolah jikalau tidak dibelikan handphone dan sepeda baru. Ayahmu bilang bahwa uang yang dimiliki tidak cukup untuk beli barang semahal itu,  namun Engkau masih saja memaksa dan marah kepada ayahmu. Ayahmu hanya diam, lalu dia pergi ke tetangga sebelah rumahmu, mencari pinjaman uang untuk beli handphone dan sepeda baru untukmu.

Setelah ayahmu membelikanmu barang itu, kau sangat senang. Kau tidak sadar bahwa di balik kesenanganmu, ada tumpukan hutang yang ayahmu sembunyikan darimu. Iya, ayahmu terbeban hutang bahkan sampai merasa tidak mampu bagaimana untuk melunasi hutang hutang tersebut. Pikirannya bingung,  badannya terasa lemah. Ayahmu mulai sakit sakitan, tetapi  kau asyik keluyuran dengan sepeda barumu bersama teman-temanmu.

Engkau pulang, tiba di rumahmu, kau melihat kerumunan orang orang di dalam rumahmu. Kau bingung dan bertanya apa yang terjadi,  lalu kau menghampiri kerumunan itu dan melihat sesosok tubuh yang ditutupi kain. Ternyata... tubuh yang tertutup kain itu adalah ayahmu, iyah dia ayahmu... Seketika kau  histeris, berteriak selantang lantangnya... Ayah!

Engkau  jadi teringat saat beberapa hari lalu saat  melihat wajahnya yang semakin tua dan layu karena memikirkan masa depanmu. Engkau melihat wajahnya yang semakin tua dan layu karena melihat anaknya yang tidak pernah menurut dengan perkataanya. Engkau melihat wajahnya yang semakin tua dan layu karena mungkin ayahmu sedang sakit.  Engkau melihat wajahnya yang semakin tua dan rambutnya semakin putih karena ayahmu menderita penyakit kronis yang ayahmu tidak ceritakan kepadamu lantaran takut mengganggu pelajaranmu.

Saat ini kau sadar bahwa ayahmu adalah sesosok yang sangat sayang kepadamu. Kau ingat dan membayangkan saat kecil dulu, saat ayahmu tersenyum kepadamu, senyum yang sangat indah, lalu mengecup keningmu, dan mengusap wajahmu, ayahmu mengusap keningmu saat kau sedih di waktu TK dulu, lalu memelukmu membuat dirimu merasakan energi cinta dan keikhlasan mengalir dalam urat nadimu. Betapa besar kasih sayangnya kepadamu... Namun saat ini, ayah pergi meninggalkanmu.

Saat ini kau hanya bisa berteriak diiringi tangis yang meraung raung...

***

Ibumu membisik di telingamu : " Ayahmu memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darahnya... Ayah memang tidak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama kau dengar ketika lahir untuk menenangkan jiwamu.... Ayah memang tidak menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu... Ayah memang tidak menyanyikanmu, agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap nyaman dalam lelapmu... Ayah memang tidak mendekapmu seerat ibumu, itu karena dia khawatir karena cintanya ia tidak bisa melepaskanmu...

Sayangi dan hormati ayahmu... memang surga ada di telapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa keridhaannya... Memang kau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu...

Dan kali ini ayahmu pergi untuk selamanya... Wahai anakku yang ibu cintai, relakanlah ayahmu pergi... doakan semoga ayahmu tenang di alam sana...  Maafakan ayahmu apabila kau merasa resah lantaran ayahmu  terlalu mengatur hidupmu, nak... ketika ayahmu senantiasa menyuruhmu sholat lima waktu, ketika ayahmu senantiasa menyuruhmu belajar dan mematikan televisi, ketika ayahmu senantiasa menyuruhmu berbakti kepada ibu dan ayah... Sebenarnya ayahmu tidak minta apa apa nak,  ayah dan ibumu hanya minta doakan satu menit saja setelah sholat sholatmu, nak... Ayah dan ibumu menginginkan kau menjadi anak yang baik dan sholeh yang setia berbakti dan mendoakan ayah dan ibumu setelah tiada kelak...

Engkau  memeluk ibumu, sembari berlinangan air mata. Hatimu memanjatkan doa doa.

"Robbigh firli waliwa lidayya warhamhuma kama robbaya ni sho ghiroo...

Ya Allah, maafkan hamba dan maafkan dosa orang tua hamba. Sayangi mereka sama saat mereka menyayangiku saat kecil dulu... Lindungi mereka sama saat mereka melindungiku dulu seolah tubuhnya menjadi selimut, tidak rela satu  nyamuk pun menyentuh kulitku. Sayangi mereka sama saat mereka menemaniiku di rumah sakit dulu. Sayangi mereka sama dengan saat mereka menghantarku  sekolah TK dulu, sama dengan ketika  memasakan aku makanan kesukaanku, padahal mereka masih belum sarapan untuk mengisi perutnya. Dan mereka selalu mendoakan demi kesuksesanku. Sayangi mereka, Ya Allah...  Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka....  Aku akan mengajaknya bertowaf di baitullah...  Aku ingin sekali mengajak menggandeng tangannya untuk ber sa'e  antara Sofa dan Marwah, untuk berdoa di Raudah dan masjid Nabawi, ya Allah...     Ya Allah berikan kekuatan padaku untuk bahagiakan orang tuaku...*


|Jember, 18 Juli 2018 |Kantor, 22.00


AYAH, KURIMKAN DOA...

Ayah, kukirimkan doa...
semoga engkau tenang di alam surga...
ayah, kan kuingat selalu...
pengorbanan yang telah engkau berikan...

Ayah, terlalu cepat kau pergi...
meninggalkan aku sendiri...
ayah, takl bisa aku ingkari...
tanpa engkau hidupku terasa sunyi...
ayah, dengarkanlah...

Dan teringat saat kepergianmu
kutaburi bunga mawar untukmu...
dan berdoa untuk melepaskanmu...
ayah, berlinang air mataku...
Share:
Read More

NYAMAH KUS BEKUS SE` E` BEOBE


(Nama bagus yang dirubah)


Biasanya setiap saya pulang ke Madura, mesti saya mencari buku bacaan yang memang ditaruh di kotak lemariku. Tadi pagi saya mencoba masuk kamar dan membuka lemari itu, saya mendapati Fandle atau bisa juga disebut cenderamata. Barang itu milik adikku, mungkin sengaja dia mengamankannya disana sebelum berangkat ke pondoknya. Cenderamata biasanya dibuatkan oleh sekolah sebagai kenang-kenangan karena sudah keluar lulus dari sekolah.

Saya tersenyum sendiri membaca nama-nama yang tertera di cenderamata tersebut. Karena sebagian banyak nama-nama yang saya baca di cinderamata itu masih kental khas Madura-nya. Mungkin, para guru di sekolah langsung mengentre nama panggilan dari wali si siswa waktu mendaftarkan ke sekolah dulu tanpa dipikir makna dan kesinambungannya.

Selaras dengan lagunya ust. Anwar, "oreng Madureh, nyamah kus-bekus e beobe".

Baik, sebagian saya bacakan, nama yang seharusnya ditulis lengkap *Muhammad atau Ahmad* malah hanya diambil sepotong, ditulis sesuai panggilannya. Jadinya, tertulis *Matsehri*, *Matjuhri*, *Matruji*, *Matdewi*, *Matnisam*, *Matdehri*, ada juga *Matlebbi* dan banyak lagi nama berawalan *Mat* lainnya. Ada juga yang berawalan *Abdul*. namun dirubah *Dul*, pasalnya banyak nama yang berawalan *Abdul* tersebut yang berubah, seperti *Dulwefi, *Dulhamid*, *Dulkariem*, *Dulmuni* bahkan salah satu ustadku dulu, namanya yang benar *Abdullah* tapi oleh santri dipanggil ust. *Dulla*, gurunda, semoga beliau baik-baik saja.

Yang perempuan, *Hosaimah* ditulis *Hosmah*, *Sulaikho* jadi *Suliha*, *Muslimah* jadi *Limah*, *Hamidah* jadi *Mideh*, *Azizah* jadi *Siseh*. dan seterusnya. Lanjutkan sendiri bagi yang hobi "ngabsen". ha!

Bagi saya, nama-nama seperti di atas sudah sebagian baik, yang sesuai asmaul husna dalam Al-Qur'an, tetapi yang kurang baik ketika nama nama tersebut di-madura-kan, diambil sepotong nama panggilannya, pun sampai tertulis di atas kertas akta dan ijazah yang existensinya begitu berharga bagi kita.

Namun begitu, diterima atau tidak, kita tetap bersyukur dengan nama nama pemberian tersebut, meski ke depan sebaiknya tidak membiasakan merubah nama anak-anak kita. Beruntung sekali kita tidak hidup di zaman kakek-kakek kita dulu, dimana nama-nama mereka tak kenal makna. Tak jarang saya tersenyum manyun ketika hadir di acara-acara HAUL, ketika ustad yang bertugas di "tawassul" membacakan nama-nama buyut-kakek dari tuan rumah. Ada yang bernama *Tomang, Kerreng, Porron*, ada juga *Celleng* bahkan ada pemakaman besar di dekat rumahku, nama "bujuk"nya adalah *"Te Kettang"* Memang aneh-aneh nama orang-orang dulu. hehe !

Nama-nama orang Madura sebenarnya bagus-bagus, karena sebagaimana budaya yang ada, orang Madura setiap hendak menamai anak yang baru dilahirkan harus meminta nama kepada kiyai, atau setidaknya Ustad (guru ngaji) yang berada di daerahnya. Nama itu diambil dari Al-qur'an, biasanya dari Asmaul husna. Berbeda mungkin dengan orang di luar sana, dimana mereka lebih mengadopsi nama-nama artis di Televisi untuk menamai anaknya.

Oleh karena, nama-nama yang baik itu jangan dirubah-rubah (nyamah kus-bekus jhek beobe!) dan pihak sekolah atau lembaga pendidikan sebaiknya tidak secara langsung mengentre nama panggilan siswa untuk dijadikan data valid, yang terkadang tak sesuai makna yang sempurna.


| Penulis : *M Siryi Zamil
|Sampang,  26 Juni 2018 |Kamar, 09.30


Share:
Read More

SALAM DARI MADURA UNTUK PROF. MAHFUD MD.

"Ada baiknya, menyampaikan kepada atasan dan jajaran kerjamu, bahwa di tengah sulitnya lapangan kerja seperti sekarang kami tersinggung dengan gaji selangit itu"

®M Siryi Zamil


Selamat buat Prof. Mahfud MD yang telah menerima jabatan megah,  sebagai bagian dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dengan gaji sekecil Rp.100 juta. Gaji kecil menurut Prof. Mahfud, tapi tidak bagi kami, rakyatmu, yang sedang bingung mencari pekerjaan, bahkan harus mengungsi ke negeri seberang.


Prof...

Salam sejahtera buatmu, yang saat ini sedang duduk manis menikmati teduhnya kantor baru, BPIP. Kami yakin kantormu sangat tenang dan nyaman,  karena dilengkapi sarana yang mewah meruah. Kursimu empuk,  beroda,  dapat diputar-putar, pasti nyaman untuk ongkang -ongkang kaki saat mendudukinya. Tapi kami tidak tau bagaimana dan seperti apa kerjaanmu. Dengan gaji setinggi itu,  pasti kerjaanmu sangat melelahkan, menguras tenaga dan pikiran. Bayangkan saja,  kami yang tiap hari,  pergi pagi pulang sore, mencangkul dan membajak sawah di bawah terik Matahari,  penghasilan masih kurang memenuhi. Selamat buatmu Prof. Mahfud MD. !


Prof...

Aku yang menulis surat ini,  asli kelahiran Sampang Madura, tempat kelahiran yang sama denganmu, Prof... Aku sejak kecil, waktu di Bangku SD, sangat mengagumimu,  bangga dengan kehebatanmu, dan ingin sekali  jadi sepertimu. Kata orang-orang, Prof. Mahfud adalah satu-satunya negarawan yang berasal dari Madura. Ya, kau adalah kebanggaan orang Madura. Tapi kali ini, Prof. Mahfud mulai berubah, tidak seperti dulu lagi. Dulu Prof. Mahfud selalu bersama rakyat atau pro rakyat. Tapi sekarang tidak lagi sesuara dan tidak pula setindak dengan rakyat. Jika dulu kau sering kritik sistem dan pengusa Indonesia, tapi sekarang sebaliknya, kau musuhi rakyat, kau tuduhkan yang tidak baik terhadap rakyat. Apa yang sedang terjadi denganmu, Prof ...


Prof ...

Saat ini kau sedang disoroti rakyat tentang jabatan barumu sejak sepekan lalu, terkhusus tentang gajimu yang sedemikian besar,  namun kau anggap kecil. Menurut kami gaji anggota BPIP itu di luar kewajaran lantaran jumlahnya terlalu tinggi di tengah-tengah melemahnya ekonomi negara kita, dan itu tak sesuai dengan beban kerja anggota badan. Kami berani mengatakan bahwa praktik kebijakan seperti itu tidak Pancasilais, mengingat kondisi kesenjangan rakyat yang luar biasa pada saat ini. Ayolah berpikir sejenak, Prof, tentang perekonomian negara kita yang semakin krisis.


Prof...

Perlu kau tau, bahwa praktik ini dilakukan di berbagai lembaga negara dengan mengalokasikan gaji, honorarium, dan remunerasi yang berlebihan sehingga menguras anggaran negara. Sumber pemborosan negara berasal dari praktik seperti ini. Ini namaya praktik pemborosan birokrasi, dan ini bahkan bisa lebih parah dibanding zaman Orde Baru, dibandingkan dengan kondisi ekonomi dan utang Indonesia yang tengah membengkak. Pada masa orde baru, jumlah APBN hanya sekitar Rp 60-70 triliun tetapi utang terkendali. Jumlah APBN sekarang tidak kurang dari Rp 2.000 triliun tetapi haus utang. Sebabnya tidak lain karena praktik pemborosan di birokrasi semacam BPIP dan lembaga-lembaga negara lainnya...


Prof...

Jika kau menjadi anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, untuk membina rakyat menjadi pancasilais, dengan gaji sedemikian tinggi, kami juga bisa mengajarkan anak-anak kami untuk mencintai Indonesia dan berpancasila tanpa mau menerima gaji sepeser pun. Ayolah, cintailah Indonesia. Katakan kepada segenap atasanmu juga teman sejajaranmu untuk mencintai indonesia tanpa pamrih. Gajimu setinggi itu malah dapat membuat Indonesia krisis dan sakit. Itu jelas bukan tindakan cinta tanah air, dan buka pula tindakan pancasilais.

Sekali lagi kami tegaskan bahwa jika praktek pemborosan seperti ini terus dilakukan, maka birokrasi akan memakan negara, pasak memakan tiang. Memang tidak ada hubungan langsung yang signifikan antara gaji Rp 112 juta dan utang yang besar. Tetapi praktik kolektif  "empire builders'' seperti ini akan menguras anggaran negara secara boros dan tidak produktif.


Terakhir ...

Salam buat Prof. Mahfud MD dari rakyat Madura, Sampaikan kepada atasanmu dan jajaran kerjamu,  bahwa di tengah sulitnya lapangan kerja seperti sekarang kami tidak suka dan merasa tersinggung dengan gaji selangitmu.

SEKIAN !

|Tulisan Ketigabelas Ramadhan 1439 H
|Jember,  31 Mei 2018 ( Kamarku, 18.25)
Share:
Read More

JUM'AT UNTUK LOMBOK

"Kita tidak akan pernah tau rasa sakitnya kepala terbentur, sebelum kita membenturkan kepala"
---------

Lombok berduka. Pulau seribu masjid kini luluh lantak. Masjid dan Mushalla tak lagi tegak berdiri. Kita kehilangan, 381 saudara telah berpulang ke pangkuan Tuhan Pemilik semesta alam.

Para saudaraku yang baik hati, pulau seribu masjid kini memanggil kita untuk bersatu dan berjamaah menolong mereka. Tiba saatnya untuk kita untuk mengulurkan tangan demi meringankan kesedihan mereka.

Kami yang hanya bisa menyaksikan keadaan dari televisi hanya bisa membantu dengan donasi kecil, sembari menengadahkan kepala, berdoa, Semoga mereka yang tertimpa musibah bisa tabah dan diberikan perlindungan oleh yang Maha Penyayang. Karena kejadian sekecil apa pun di semesta ini tidak pernah lepas dari kehendakNya.

Kami pun yang dalam keadaan aman saat ini tidak menutup kemungkinan tidak diuji dengan hal yang sama oleh yang Maha Kuasa, entah besok atau besok lusa atau suatu saat nanti. Semuanya hanyalah Tuhan yang tau. Kami hanya selalu berdoa semoga Tuhan senantiasa memberikan kebaikan dan melindungi kita.

Ada baiknya jika kita tidak hanya menganggapnya sebagai peristiwa alam saja, tapi juga peringatan Tuhan untuk Kita untuk mengingatNya. Dan bisa pula Tuhan sedang menguji ketakwaan dan bahkan keimanan kita.

Tak bisa membayangkan, bahwa kami yang berada sedikit di sebelah barat episentrum gempa yang ada di pulau Lombok, akan tertimpa hal yang sama, karena gempa pertama sebagian kami merasakan goyangannya.

Kami hanya berpikir, diturunkannya bencana alam yang akan mengguncang kita hanya bisa kami adukan kepada yang Maha Kuasa, Tuhan kita.

Berdoalah dan berusahalah untuk tidak menjadi korban darinya, selebihnya berpasrahlah hanya kepada Sang Pemilik Alam.

Di hari Jum'at yang mulia, kita berdoa bersama untuk Lombok dan Indonesia, dilanjutkan dengan Pengumpulan donasi dari para jamaah shalat Jum'at dan para dermawan lainnya. Mari salurkan ke lembaga mana saja yang terpercaya dan amanah. Semoga kita senantiasa dalam lindunganNya, Amin!


|Penulis : *M Siryi Zamil
|Jember, 10 Agustus 2018 |Kantor, 10, 30
Share:
Read More